Mimpi Buruk

Minggu, Juni 04, 2017

Kemarin malam saya mimpi buruk. Sebuah potongan kejadian yang tidak ingin saya jumpai. Bangsatnya, ketika bangun, saya tidak bisa berkata untung itu hanya sebuah mimpi. Sebab, potongan itu sudah terjadi. Bangsatnya lagi, baru terjadi. Kemarin malam, saya — akan, sedang, bangun — dengan perasaan nyeri di dada. Bangsat, saya mengumpat semangkel-mangkelnya. Untung, pagi itu belum memasuki puasa.

Setelah hampir dua bulan yang penuh dengan hal-hal yang mengoyak-ngoyak sebuah kepercayaan, psikis saya hancur. Lebur. Sedang menyembuhkan diri, namun datang serangan bertubi-tubi. Bahkan pasca dua bulan yang penuh dengan hal-hal yang mengoyak-ngoyak sebuah kepercayaan itu, obatnya belum juga ketemu. Sederhana saja, kata beberapa suara. Tapi apa iya? Saya menyerah menjelaskan. Berontak dengan diam lah yang sedang saya lakukan. Sebab, itu obat yang manjur untuk saat ini sepertinya. Paling tidak, bagi saya.

Pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan, sebenarnya, kau sendiri sudah tau jawabannya. Kau juga tahu, jiwa apa yang sekarang sedang menduduki singgahsana pada perjamuan jiwa-jiwa. Tapi tidak apa. Tidak perlu dipikirkan, atau repot-repot berusaha ikut menyembuhkan. Hanya, aku sedang ingin sembuh saja.

You Might Also Like

4 komentar

  1. aku juga sempat kalau bangun tidur sakit dadanya gitu. Tapi sekarang udah gak sih. Alhamdulilah :) Semoga sehal sellau mas, biar bisa isi terus assuahlah ini :)

    Aku sepertinya baru maen kesini, tak ada salahnya berkenalan bukan :)

    Salam kenal ya :)

    BalasHapus
  2. Gua pernah tuh ngalamin depresi yang saking parahnya, sampai mempengaruhi kesehatan jasmani. Tapi intinya adalah cuma kita yang bisa menolong diri kita sendiri. Tanyakan pada diri lu, apakah hal ini tetap akan penting 1 tahun lagi? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Dan setelah itu lu harus sugesti diri lu supaya berani untuk bangkit dan melangkah ke depan. Awalnya mungkin dengan cara jangan memikirkan hal yang menjadi penyebab sakit lu. Tapi lama kelamaan, lu akan mampu untuk merelakan dan mengingat segalanya dengan senyuman, seperti yang sudah gua alami sendiri. Semangat ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih koh ehehe. benar, tidak penting untuk terus-terusan larut dalam kenelangsaan. tapi, ya, memang membutuhkan waktu untuk sembuh. yah, masalah waktu sepertinya.

      Hapus