Zadig

Jumat, September 30, 2016

sumber

Awalnya tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas resensi buku. Kemudian daripada mengendap di laptop, aku posting di blog ini, dan untuk memenuhi kewajiban sebagai blogger, yaitu memposting sebuah tulisan. Hati-hati ada spoiler.
 
Zadig adalah buku karya Voltaire. Pertama kali diterbitkan di Prancis pada tahun 1747, kemudian diterjemahkan oleh Penerbit OAK pada bulan Oktober tahun 2015, diterjemahkan oleh Widya Mahardika Putra. Novel Zadig memiliki tebal 130 halaman.
 
Bergaya ala kisah 1001 malam, novel ini menghadirkan manusia bijak bernama Zadig, yang muda, kaya, dan hanya mencita-citakan kebahagiaan. Namun, nasib mengombang-ngambingkannya: calon istrinya direbut orang, wanita yang akhirnya dinikahinya ternyata kurang sempurna akhlaknya, dan ia menerima berbagai macam tuduhan. Meski begitu, berkat kebaikan hati dan kecerdasannya, Zadi kemudian dekat dengan Raja dan ratu Babilonia─paling tidak, sampai Zadig jatuh cinta pada Sang Ratu. Karena cintanya, Zadig terpaksa harus melarikan diri dari Babilonia. Dalam petualangannya ke berbagai negara, kesialan demi kesialan senantiasa menghampiri Zadig.

Di novel ini, Zadig adalah orang yang cerdas, memahami isi kitab Zarathustra, mempelajari filsafat, belajar tentang nilai-nilai kehidupan, dan orang yang bijak. Namun hal-hal yang dimiliki Zadig tidak membuat ia hidup bahagia. Malah hal-hal baik yang ia miliki terkadang malah membawa sial untuknya.

Kesialan pertama adalah ketika istri Zadig akan diculik, walaupun berhasil menyelamatkan istrinya, ia mengalami luka di bagian mata. Kemudian istrinya meninggalkannya, karena istrinya tidak mau mempunyai pasangan yang memiliki mata satu. Akan tetapi luka Zadig sembuh, akhirnya dia mencari istri yang berasal dari kalangan warga biasa, karena menurutnya gadis bangsawan adalah gadis yang kejam (istri Zadig sebelumnya adalah gadis bangsawan).

Zadig yang menginginkan kehidupan yang bahagia, dengan kecerdasan dan kebijakan yang ia miliki, terus mengalami kesialan demi kesialan. Ditangkap oleh pengawal kerajaan karena dituduh mencuri hewan peliharaan kerajaan, dihukum karena dituduh membuat syair yang menjelek-jelekkan Raja, diburu oleh pengawal kerajaan dan akan dibunuh karena mencintai Sang Ratu, dan kesialan-kesialan lainnya.

Namun terkadang kebijakan dan kecerdasan Zadig menyelamatkan ia dari kesialannya. Karena kebijakan dan kecerdasannya, ia dijadikan perdana mentri kerajaan. Kebijakan dan kecerdasannya pun sering menyelamatkan ia dari hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Bahkan Zadig dipercaya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sudah beratus-ratus tahun belum ada penyelesaiannya. Karena kebijakannya pun, Zadig dipercaya untuk menyelesaikan perdebatan antar kelompok yang memiliki kepercayaan yang berbeda.

Menurut saya novel Zadig adalah novel sederhana yang memiliki makna yang dalam. Di dalamnya terdapat hal-hal yang membahas tentang isu-isu ketuhanan, moralitas, dan terdapat juga nilai-nilai kehidupan. Dengan penuturan yang sederhana dan mudah dipahami, kita bisa dengan mudah menemukan pesan-pesan yang ada di novel ini.

Melalui dongeng yang sederhana, Voltaire juga ingin menyentil soal toleransi. Voltaire sendiri salah satu filsuf yang menggembor-gemborkan masalah toleransi, bisa dilihat dari karyanya, seperti esainya yang berjudul Risalah Toleransi, atau kumpulan-kumpulan esai yang lainnya, banyak membahas soal toleransi. Serta beberapa novelnya yang di dalamnya diselipkan isu-isu toleransi.

Selain kesederhanaan penceritaan dan pesan-pesan yang mendalam pada novel Zadig, kelebihan lainnya pada novel ini adalah pada penerjemahannya dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Penerjemah mampu menerjemahkan dengan sangat apik, sehingga enak dibaca dan maknanya mudah ditangkap.

Menurut saya kekurangan dari novel ini adalah, ada salah satu bab yang menurut saya konsep ceritanya sama dengan cerita Nabi Khidir yang pernah saya baca, hanya saja dalam salah satu bab tersebut nama tokoh dan latarnya berbeda. Sehingga saya menganggap bahwa ide Voltaire ini tidak asli, atau biasa kita sebut dengan plagiarisme. Namun sepertinya isu plagiarisme pada zaman Voltaire menulis buku ini belum segempar sekarang, sehingga hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan, atau karena alasan lainnya, saya tidak tahu.

You Might Also Like

9 komentar

  1. gue bleum pernah baca buku in ilangsung sih tapi dri review yg gue tau buku iniemang bagus, dan salah satu yg terkenal juga kan ya dri voltaire? viltaire dia emang tajam gitu ya kalo udah nulis,,,kaya berani ngekritik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dia berani dalam menyuarakan hak-hak manusia maupun kebebasan beragama. Dia melawan dogma Greja dan pemerintahan ortodoks di Prancis.

      Hapus
  2. Akhirnya posting lagi ya pon..

    Nama voltaire spertnya gk asing gw dnger, kyak prnah gw plajarin..entah itu krna nama nya ada volt nya yg biasa diajarin di fisika atau difilsafat. Yg jlas gw prnah dngar sbelumnya.

    Mnurutmu ini sjenis Novel kyak tulisan jostein gaarder sih gk pon? klo jwban nya bkan, ksih tau dong beda nya ada dmana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hehe, jarang nyentuh laptop btw :D

      Dia filsuf dan penulis dari Prancis. Sepertinya dia juga berpengaruh dalam revolusi Prancis.

      Kalo menurutku sih beda. Kalo dalam karyanya yang ini, Voltaire lebih memfokusikan karyanya untuk mengkritik dan membahas isu-isu toleransi.

      Hapus
    2. Oo, jadi lebih nyentil ke permasalahan toleransi dalam beragama ya pon?

      Hapus
    3. Iya, dia lebih bahas ke isu kebebasan beragama, yang mungkin pada waktu itu masih panas-panasnya untuk dibahas. Beda dengan Jostein yang latar belakangnya guru filsafat dan dalam karyanya disisipkan pertanyaan-pertanyaan filsafat.

      Hapus
  3. Iya loh gue baca sinopsis nya kok gue rasanya pernah denger cerita ini waktu sekolah. Semakin scroll ke bawah, oh iya mirip cerita nabi Khidr.

    EH sama juga sih kayak cerita Abu Nawas, bedanya kalo abu Nawas selalu beruntung, dan kaloupun sial dia gunain kecerdasannya buat lolos dari kesialan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada satu bab yang ceritanya mirip gitu. Coba baca aja. Tapi selain bab itu, cerita lainnya juga seru kok.

      Abu Nawas masuk ke cerita 1001 malam nggak ya? Kalo iya brarti mirip-mirip cara penceritaannya.

      Hapus
  4. Cerita yg sama kek Nabi Khidir yg mana, Co? Jadi penasaran. ._.

    BalasHapus