Dialog Bumi dan Surga

Sabtu, Januari 30, 2016

Pernah nggak kalian kecewa dengan seorang penulis gara-gara nggak puas sama karyanya, tapi tetep ngikutin karyanya yang lain? Kalo aku pernah. Tepatnya sama Jostein Gaarder. Nggak tau dia siapa? Aku juga baru tau beberapa bulan yang lalu saat aku beli salah satu karyanya 'Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng'. Tapi kesan pertama saat aku baca bukunya, aku harus berkali-kali membaca ulang sebuah narasinya, karena sulit dipahami.

Kalo nggak tau siapa Jostein Gaarder, dia adalah seorang guru filsafat. Karya paling terkenalnya yaitu Dunia Sophie. Buku filsafat yang dibuat menjadi fiksi, sehingga kita lebih mudah belajar filsafat melalui buku Dunia Sophie. Karya Jostein Gaarder juga banyak yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Dan ciri khasnya adalah memadukan keindahan dongeng dan kedalaman perenungan.

Entah kenapa aku beli buku itu. Padahal aku nggak kenal sama penulisnya, bahkan nggak pernah baca review buku itu. Tapi emang sih, aku bukan tipe orang yang baca review buku dulu sebelum pergi ke toko buku. Aku tipe orang yang lihat dari sampul, dibeli, dibaca sampe habis, baru baca review-nya.

Walaupun kecewa dengan alur cerita dari 'Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng', tapi aku puas dengan bukunya. Saat membaca kadang ada sesuatu yang membuatku berhenti membaca dan merenungkan sesuatu yang dikatakan oleh tokoh utama. Setelah membaca biografi tentang Jostein Gaarder, menurutku memang poin plus dari setiap bukunya adalah banyak hal yang membuat kita merenungkan sesuatu setelah mebaca bukunya.

Dan anehnya setiap ada buku Jostein Gaarder yang belum aku punya, aku langsung beli. Sekarang buku Jostein Gaarder adalah buku wajib yang harus dibeli buatku. Yang terakhir aku baca adalah Dunia Cecilia. Seperti buku-buku Jostein Gaarder lainnya, di dalam buku Dunia Cecilia terdapat selipan-selipan pertanyaan filsafat juga.

Dunia Cecilia menceritakan tentang Cecilia yang sakit, dan entah sakit apa aku enggak tau, tapi penyakit itu sepertinya sangat keras dan tidak bisa disembuhkan. Tapi, keajaiban terjadi di malam Natal. Seorang malaikat bernama Ariel mengunjunginya dan datang untuk menghibur Cecilia. Dan sejak itu, dialog antara Bumi dan Surga pun dimulai.

assudahlah.blogsopt.co.id

Cecilia dan Ariel berbicara tentang beberapa misteri yang ada di dunia ini. Dan menurutku itu adalah jawaban-jawaban dari Jostein Gaarder tentang beberapa pertanyaan filsafat. Dan pertanyaan-pertanyaan dari Cecilia kadang juga membuatku merenung dan bertanya-tanya 'kok bisa ini kayak gini ya?' atau 'bagaimana ini bisa terjadi?'. Dan Ariel pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Walaupun jawabannya kadang membuatku kurang puas. Yah, mungkin karena jawaban tersebut berasal dari gagasan-gagasan Jostein Gaarder sendiri. Jadi kita mendapat jawaban yang masih 'kira-kira'.

.........

Aku juga sempat ikut berdiskusi bersama Cecilia dan malaikat Ariel. Kita membahas beberapa masalah-masalah yang ada di alam semesta ini.

"Tuhan juga pasti menyukai orang dewasa kan?" tanya Cecilia.

"Tentu saja. Biarpun mereka jadi sedikit usang sejak Kejatuhan."

"Usang?"

"Mereka menganggap dunia sebagai hal yang biasa-biasa saja. Buat para malaikat di surga, dunia ini bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, biarpun kami hidup sepanjang keabadian. Kami masih terheran-heran menyaksikan apa yang telah Tuhan ciptakan. Lagi pula, Ia sendiri juga terheran-heran. Karena itulah, Ia lebih menyukai anak kecil yang serba-ingin tahu ketimbang memikirkan orang-orang dewasa yang sok tahu."

Aku juga setuju dengan malaikat Ariel, Cecilia pun setuju dengan malaikat Ariel. Kita bertiga sepertinya setuju kalau orang dewasa menganggap dunia ini biasa. Kita semua setuju kalau orang dewasa sudah kehilangan sesuatu yang penting di dalam dirinya. Yaitu 'sisi anak kecil'. Malaikat Ariel juga bilang padaku, kalau malaikat tidak pernah tumbuh, tubuh mereka tidak pernah mengalami perubahan. Dan menurutku 'sisi anak kecil' dari malaikat Ariel pun tidak pernah berubah. Dia selalu penasaran dan takjub terhadap dunia ini.

Aku, malaikat Ariel, dan Cecilia juga setuju, cara orang dewasa menikmati dunia itu sungguh membosankan. Bahkan saat membahas ini, malaikat Ariel sangat antusias, aku dan Cecilia hanya bisa duduk diam dan benar-benar menyimaknya. Katanya, orang dewasa menganggap dunia sudah tidak sensasional lagi, mereka sudah maklu dengan apa yang terjadi di dunia. Dan sudah menganggap seluruh alam semesta ini biasa-biasa saja.

Cecilia sepertinya sudah lelah waktu malaikat Ariel terus berbicara tentang orang dewasa. Dan akhirnya aku, Cecilia dan malaikat Ariel pun membuat sebuah kesimpulan. Bahwa seharusnya 'sisi anak kecil' dalam diri manusia itu harus tetap dijaga. Karena dengan begitu, kita selalu takjub, dan penasaran dengan apa yang ada di alam semesta ini.

Berdiskusi dengan Cecilia dan malaikat Ariel sunggu menyenangkan. Sayang, Cecilia sudah lelah, dan dia ingin tidur. Yah, aku maklumi juga, karena dia sedang sakit. Semoga lain kali bisa berdiskusi dengan karakter-karakter ciptaan Jostein Gaarder yang lainnya. Selamat beristirahat, Cecilia.

You Might Also Like

70 komentar

  1. aku suka buku yg berbau2 filsafat..kaya lagi baca bukunya TL aku juga selalu diam sejenak ikut merenung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gara-gara Jostein Gaarder aku juga mulai suka filsafat mbak. Btw, TL siapa ya? Atau apa?

      Hapus
    2. TL? Tere Liye kah? #ikutnebak

      Hapus
    3. Eh iya, kayaknya Tere Liye deh.

      Hapus
    4. salah!! TL itu Tante Lusi...

      Hapus
    5. Oh jadi sekarang bang Topik lebih suka tante-tante daripada om-om? Oke fine.

      Hapus
  2. kalo belum kenal, kenalan dung sama Jostein Gaarder
    itu Ariel noah ya yang jadi malaikatnya?
    semoga cepet sembuh cecilia

    BalasHapus
  3. waduuh kenapa aku bacanya jadi ikutan masuk dalam cerita kok setuju juga.
    Jostein Gaarder baru tau aku, tentang filsafat menarik ini.jadi pingin baca bukunya langsung.
    emang orang dwasa gitu, aku juga meraskan semakin dewasa gak kayak anak kecil dan setuju harus ada sisi anak kecilnya, yang selalu pingin tau, takjub. hmm..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, sisi penasaran itu harus dijaga. Jangan cuma penasaran sama aktivitas gebetan.

      Hapus
  4. Kalo buku perenungqan yang masih aku baca sekarang adalah Si Cacing dan kotoran kesayangannya karya Ajahn Brahm. Itu juga buat gue sejenak berhenti membaca dan berpikir,"Bener juga yah"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak tau judul itu. Ntar coba cari di gugel. Kalo bagus, sikaat.

      Hapus
    2. Sikat aja lah, bukunya bagus, cuman belum selesai baca sampai habis~

      Hapus
  5. dia penulis lahir diNorwegia ya ?
    menarik ni co, ada masukan baru buat gue download ebook nya si jostein. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo'i er. Baca sampe habis. Semua karyanta juga er. Tetep bertahan aja pas baca, sampe dapet maknanya wkwkwkwk. Banyak yang tumbang di tengah-tengah soalnya.

      Hapus
    2. gue mau co!
      menurut lu apa judulnya yang bagus ? kali aja ada e-booknya :3

      Hapus
    3. Yang ada ebooknya cuma Dunia Shopie er. Tapi tebel banget tuh.

      Hapus
    4. biarin, co. gue download nih

      Hapus
    5. Oke er. Spoiler dikit tentang isinya. Nggak cuma belajar filsafat, kita juga belajar sedikit tentang sejarah agama er.

      Hapus
  6. WIh keren banget ya kayaknya, boleh juga nih!! (y)

    -jevonlevin.com

    BalasHapus
  7. aaaaahh jadi itu toh kisah singkatnya. Aku lihat buku ini mencolok sekali di rak gramedia. Tebel dan kayanya Bagus. Tapi kata kamu kecewa meski kamu suka. hmm....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kecewa itu sama yang Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng mbak. Kalo sama yang Dunia Cecilia mah enggak. 4 dari 5 bintag lah menurutku.

      Hapus
  8. Mungkin ada saran buku perenungan yang bagus lainnya? Pengen baca nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dunia Sophie. Itu juga dari Jostein Gaarder. Kalo dari pengarang lainnya aku belum pernah baca. Oh iya, temenku juga nyaranin Ernest Hemingway. Yang ceritanya di laut itu. Itu juga sepertinya perenungan.

      Banyak sih sebenernya. Coba searching di gugel. Karena aku juga belum banyak baca buku perenungan lainnya. Ehe :)

      Hapus
  9. Kalau saya belum pernah ngalamin hal-hal seperti itu
    tapi buku-buku yang menjadi favorite saya adalah buku motivasi dan manajeman, itu bisa membuat saya berpikir lebih positif :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nggak suka buku manajeman. Kalo buku motivasi suka juga sih aku.

      Hapus
  10. Kalau filsafat saya lebih cenderung ke Hamka :-D sama Davinci code..
    Dari konsep kedewasaan tadi saya pun stay tune dengan buah pikirnya Jostein tentang makna kedewasaan :-)

    ditunggu ulasan buku selanjutnya ya.. walaupun ngk beli setidaknya udah dapat bocoran wawasan dari blognya Mas Panco ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Davinci Code pengen baca juga nih aku. Ntar coba baca deh. Pemikiran Jostein ini juga sama kayak Paulo Coelho menurutku. Bahwa pas kita dewasa, kita dikuasai 'Yang Lain'.

      Sebenernya pengen lebih banyak ngasih bocoran dari buku ini sih. Tapi ntar malah spoiler banyak banget. Wkwkwkwk.

      Hapus
  11. Belum pernah liat buku ini sih. Tapi bisa lah masuk wishlist
    Nice post

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bang. Coba donlot ebooknya, kalo nggak baca-baca dikit di gramed. Kalo cocok kan bisa sikat langsung.

      Hapus
  12. Kayaknya emang bagus beneran deh,,
    Liat2 dulu lah, klo bagus beneran, ya sikatttt!@

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, coba baca-baca dikit di gramed atau donlot ebooknya. Kali aja suka, bisa langsung sikat.

      Hapus
  13. wah rekomendasi bacaan baru nih. masuk dulu deh ke rencana di catatan, semoga bisa kebeli nantinya hehehe.
    cobain deh baca bukunya haruki.. nggak tau deh itu filsafat atau bukan, tapi menarik kok diulas juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, aku lagi cari buku-bukunya Haruki juga. Masalahnya di toko buku jarang. Kemaren nemu satu sih, tapi belum tak beli.

      Hapus
    2. di gramed pandanaran perasaan masih deh, eh dirimu stay di semarang kan ya? masih ada yang norwegian wood kalo nggak salah. bacaan paling ringan tuh dari haruki

      Hapus
    3. Aku seringnya sih ke Toga Mas sama Gramed yang satunya itu. Belum cek yang Pandanaran. Ntar deh, cek di sana. Masih liburan sih. Tapi ya ntar balik ke Semarang. Ehe.

      Hapus
    4. hooo toga mas bukannya udah bubar ya? eh dimana sih?
      oke oke siap haha

      Hapus
    5. Toga Mas masih ada kok mas. Di Bangkong yang deket Lotte Mart itu sih. Kalo mau beli buku di Toga Mas, dateng hari senin mas, diskon 20% buat novel dan komik, lumayan tuh. Walaupun nggak terlalu lengkap, tapi banyak buku bagus disana mas.

      Hapus
  14. Kalo genre filsafat lebih suka sama davinci code, angels and demon sama inferno hohoho.
    Tapi bukunya si Jostein ini leh ugha menurutku, Mas.
    Ternyata eh ternyata, ada ebooknya ya? Langsung cari aaah hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, itu buku-buku yang masih ku cari. Nyari Angels and Demon susah ya.

      Ebooknya barusan tak cek di gugel belum ada. Ntah kalo ntar nemu. Kalo Dunia Sophie kayaknya ada. Tapi ya, banyak banget halamannya.

      Hapus
  15. Tentang filsafat yaa, jujur sih ngak suka sama yang berat-berat dan bikin mikir :D hehehe kalo buku suka yang komedi dan buku-buku yang ringan dibaca. tapi dari review tadi gue sedikit memahami konten bacaannya tapi apalah daya bagi gue yang memang ngak suka yang berbau-bau filsafat itu, padahal pengen loh tapi ngak suka. looh kan repot jadinya.. haduuuhhh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nggak suka mending jangan dipaksa sih. Daripada ntar males bacanya. Ehe.

      Hapus
  16. Gue baca dari atas, komen komennya, udah pada tahu semua buku-buku tentang filsafat. Sementara gue? Nggak tahu sama sekali.

    Sebenarna gue suka buku-buku yang kayak gini, Bang. Cuma nggak tahu pengarangnya siap, judulnya kayak apa.

    Kan sekarang udah tahu nih, coba-coba searching di google, kalau menarik, sikat. Gitu kan, Bang? Hahaha.

    Makasih infonya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya sih aku juga nggak tau pengarang-pengarang buku yang bergenre kayak gini. Tapi ada satu temen yang suka baca buku. Jadinya sering sharing dan punya banyak refrensi deh sekarang.

      Yo'i. Kalo menarik, sikat. Masalahnya, udah coba tak cek, untuk buku 'Dunia Cecilia' belum ada ebook gratisannya sih.

      Hapus
    2. Iya. Tapi Dunia Sophie udah dapat nih. Hahaha.


      Gue juga penasaran dengan bukunya Ernest Hemingway, yang lo sebut di komentar di atas,Bang. Lelaki tua dan laut. Udah muter muter nyari, nggak ketemu. Nanti kalau ada, boleh minta, Bang? Hahaha.

      Hapus
    3. Dunia Sophie isinya sejarah filsafat tapi dibikin fiksi. Tebel dan kadang bikin otak cidera. Wkwkwkwk. Soalnya ngelihat review di goodreads, banyak yang berhenti di tengah jalan.

      Aku juga sebenernya belum baca sih. Tapi kata temen itu bagus. Malah katanya kalo sudah kerja atau sudah pernah kerja baca buku itu makin ngena.

      Susah sih carinya, aku juga belum nemu. Kalo mau sih yang bahasa Inggris :D

      Hapus
  17. Sya pling suka bkunya.jostein garder yg dunia sophie. Blum baca sih, tpi dri reviewnya.gw.dah suka. (hehe)

    susah dpat aslinya. Kbanyakan copy smua. Oiya, mas ponco punya buku krangan jostein garder brapa? Apa aja jdulnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di toko buku sini malah banyak mas. Aku punya yang Dunia Sophie, Dunia Anna, Dunia Cecilia, sama Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng.

      Hapus
    2. Wah, bnyak bnget, rata2 buku filsafat sya trbitan lama mas, ada yg tulisannya pke msin ktik dll. Tpi mles baca, soalnya bosan.

      mngkin buku flsafat yg brcerita akan sdikit mnghibur. Barter yuk hehe

      Hapus
    3. Wah, pasti keren-keren tuh mas. Kalo aku sih gara-gara Jostein Gaarder jadi belajar filsafat. Jadi nggak punya buku filsafat yang serius itu.

      Eh, mending beli aja mas. Banyak kok di toko buku :D

      Hapus
  18. gue nggak nyangka lo suka saama buku gituan co hahahaha
    kirain cuman suka sama buku tulis doang..

    bener sih orang kalau udah makin dewasa makin males main ini itu. mungkin karena beban pikirannya juga beda sih.. masalahnya juga beragamm nggak kayak waktu masa kecil dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anjayyyyy... buku tulis -__- Nggak cuma buku tulis kok bang, buku tabungan juga.

      Iya bang. Beban hidupnya beda. Apalagi masalah percintaannya, lebih berat.

      Hapus
  19. sepertinya saya harus mulai belajar membaca buku filsafat seperti ini. hidup sudah cukup dengan novel-novel romance yang selalu buat baper haha
    otw download e-booknya, semoga saya bertahan baca sampai selesai :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, harus coba rasa yang berbeda dari sebuah novel. Semoga bertahan :D

      Hapus
  20. Kebayang kalo orang dewasa menikmati dunia kayak anak kecil, kayak hujan-hujanan bertelanjang dada dan tanpa alas kaki, nyari ikan sepat di comberan, berantem rebutan maenan. serem co kalo dunia ini seperti itu. ngeri ngebayanginnya! ahaha

    btw, referensi bacaan lo keren juga. mesti banyak baca buku berbeda beda genre juga nih gue. btw thanks ulasannya. gue jadi ada niatan untuk baca buku novel filsafat juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya nggak gitu juga bang, bukan kelakuannya yang kayak anak kecil -__- Btw kalo ortuku kayak gitu, ngelihatnya serem juga.

      Sip bang, cobain.

      Hapus
  21. ho oh....orang ini sukses dengan buku dunia sophi...novel filasat yang keren itu..cuman sampai saat ini belum baca...apadahal bukunya bukan nggak ada...
    mungkin males karena harus baca novel yang pake mikir berat...padahal biasanya ngalir aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, walaupun dibikin mengalir gitu, tapi tetep bikin cairan otak bergetar.

      Hapus
  22. waw, novel filsafat, keren banget, biasanya sih novelnya tebel-tebel :))

    ditunggu ya kunbal nya ke www.freeday212.blogspot.co.id/2016/02/akun-channel-video-dan-kamera-baru.html
    happy Bloging

    BalasHapus
  23. Dih, baca kisah Cecilia itu kok menarik ya. Filsafat yang disispkan lewat cerita fiksi emang lebih menarik. Aku baca reviewmu juga menarik, Co. Hmm, tapi aku masih nggak mau baca buku yang rada berat-berat mikir. Buatku baca buku itu untuk menghibur dan menenangkan. Baca buku berat kadang-kadangan. Mungkin next time kalo kepengin "ngisi otak", karangan beliau nih :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, kadang baca buku yang berat-berat itu bikin otak cidera. Jadi aku juga ngimbangi baca buku yang menghibur juga mbak :D Oke mbak, coba baca aja kalo udah pengen.

      Hapus
  24. Font tulisan sudah menjadi ciri khas penulis ya kak. Menurut kaka, lebih menarik novel yang mana? Oh ya, sekalian mau tanya kalo kami mengadakan lomba blog, berminat ikut gak nih kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya aku suka yang Dunia Sophie.

      Tergantung lombanya jenisnya bagaimana. Kalo yang dibidangku sih ikut. Kalo aku kurang menguasai aku pertimbangkan deh.

      Hapus