Rabu, 05 Oktober 2016

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Aku pernah nulis mau posting salah satu cerpen dari kumpulan cerpen Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa kalo nggak males. Nah, kebetulan sekarang aku nggak males. Jadi aku posting salah satu cerpen yang aku ambil dari buku Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Silahkan membaca.....

-------

Roket tersebut meluncur bebas di tengah langit pekat sesak bintang sebelum akhirnya tergelincir di atas lautan abu, terseret hingga puluhan kilometer dan meninggalkan jejak depresi yang cukup dalam—memanjang seperti parit. Kabut tebal terbentuk di sekeliling pesawat ulang-alik yang terbaring dengan hidung tertanam di undakkan pasir kelabu. Engsel-engselnya bergetar sesaat, kemudian pintunya tersentak dari dalam, dibuka secara paksa. Satu per satu, awak kapal melompat keluar, tubuh mereka berbalut setelan seragam berwarna perak. Kabut abu yang menggantung serta-merta jatuh menghujani mereka. “Sudah kubilang, jangan ambil koordinat itu!” gerutu salah satu awak kapal sambil mengibas tangan ke atas setelan seragam.

“Lho, mana aku tahu?” sahut awak yang lain. Kakinya terendam dalam tumpukkan abu monokromatik. “Aku hanya mengikuti instruksi dari pusat!”

“Cukup!” gertak Sang Kapten seraya mengambil langkah lebar-lebar melintasi hamparan abu. Ia menutup mulut dan hidung dengan sebelah tangan. “Sekarang kita harus menemukan jalan untuk kembali ke Bumi.”

“Negatif, Kapten,” ujar Koveer, yang memegang kedudukan sebagai tangan kanan Sang Kapten. “Jarak dari Merkurius ke Bumi sekitar sembilan puluh satu juta kilometer. Rasanya lebih aman bagi kita untuk mencoba kembali ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.”

“Baiklah,” angguk Sang Kapten. “Kalau gitu kita harus menemukan jalan untuk kembali ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.”

Koveer terdiam.

“Apa lagi?” tanya Sang Kapten tak sabaran.

“Roket kita sudah rusak total,” kata Koveer. “Bagaimana caranya kita—”

“Aku tidak tahu!” balas Sang Kapten. “Heran, apa semuanya harus dijawab sekarang?”

Keempat prajurit-astronot itu berdiri berjauhan antara satu dengan yang lain. Di sekeliling mereka gundukkan abu menghampar sejauh mata memandang dengan lingkaran kawah terbuka di mana-mana. Ada yang sebesar mangkuk, ada yang melebar sampai radius ratusan kilometer. Langit di atas membentang pekat dan menampilkan kilau bintang gemerlap. Tak ada atmosfir. Bola panas yang mereka kenali sebagai matahari menggantung gagah di langit, jauh lebih besar dari matahari di Bumi, dengan bias cahaya yang mengantarkan hangat dan nyaris membutakan—seperti berada di ruang studio yang terus-terusan disinari lampu sorot raksasa. Angin panas berembus dari segala arah, namun masih dalam batas toleransi: menerpa wajah dan membuat tubuh mereka berkeringat. Dengan susah-payah mereka berusaha berjalan melewati gundukkan abu yang merendam kaki sampai setengah betis.

“Sekarang kita kemana?” tanya Sang Kapten.

Koveer mengeluarkan sesuatu dari saku seragam. “Aduh, jarum kompas ini tidak mau berhenti berputar.”

Sang Kapten menggeleng. “Kompasmu tak ada gunanya di sini.”

“Kalau begitu aku tidak tahu kita harus ke mana. Tanpa kompas, kita buta.”

Sang Kapten menunjuk ke depan. “Maju.”

Dua awak kapal lainnya—Yureko dan Abatul—mengikuti dari belakang, siaga dengan senapan laser terselempang di balik punggung dan pistol di tangan. Mereka melangkah pelan penuh kehati-hatian. Sang Kapten di depan. Koveer di belakangnya. Yureko di urutan ketiga. Dan Abatul di baris terakhir. Mereka membentuk satu kolom dan masing-masing memegang senjata pilihan. Kawah-kawah yang bertebaran sungguh banyak dan dalam beragam ukuran. Matahari berpijar terang. Walau belum terlalu jauh melangkah, keringat sudah membanjir. Dan mereka terus berjalan.

Pada titik tertentu, Sang Kapten menoleh ke belakang. Bangkai roket yang kandas tak lagi ada dalam jarak pandang. Gurun abu tempat mereka memijakkan kaki seolah tak bertepi. Di kejauhan, berotasi mengelilingi matahari, mereka bisa melihat Bumi—seukuran uang logam—memancarkan cahaya biru keputihan.

“Tunggu,” kata Koveer. Ia mengangkat sebelah tangan di udara dengan jemari terkepal. “Aku mendengar sesuatu.”

Keempat prajurit-astronot itu diam, membuka telinga dan berusaha mendengarkan suara-suara di sekeliling mereka. “Aku tidak dengar apa-apa,” kata Yureko.

“Aku juga,” timpal Abatul.

Sang Kapten mengerutkan dahi. Hening. Lalu—

“Komet!”

Mereka mendongak: puluhan batu kerikil dalam berbagai ukuran jatuh bagai hujan dari kedalaman langit pekat, berwarna kemerahan seperti bara, dan meninggalkan jejak asap di udara. Yureko melompat ke samping dan mengubur diri di bawah timbunan abu. Abatul melebarkan langkah kakinya dan bergerak sedikit lebih cepat menjauh dari sana. Sang Kapten tengkurap. Koveer hanya bisa menengadah dan menatap keindahan itu.

Gerombolan kerikil jatuh ke atas gundukkan debu, menimbulkan desis panas. Awalnya, satu per satu. Lantas bersamaan. Kabut tebal kembali terbentuk di udara. Kawah-kawah baru mulai bermunculan. Lantas—

“Gempa, gempa, gempa!”

Guncangan itu datang tidak lama setelah kerikil terakhir jatuh ke atas hamparan abu. Mereka berpegang pada senjata masing-masing–terendam dalam abu. Kabut di sekitar mereka semakin tebal, semakin tinggi membumbung di udara, semakin padat. Sinar matahari membakar punggung mereka. Selama lebih dari lima belas menit, mereka pasrah. Tertimbun abu. Hanya kepala mereka yang masih menyemul di akhir guncangan tersebut. Koveer adalah yang pertama berhasil membebaskan diri. Ia bergegas menarik yang lain dari timbunan abu. Wajah mereka coreng-moreng. Mulut mereka penuh abu. Keempatnya meludah ke sana-sini.

Sang Kapten menoleh ke belakang, terkejut. “Lihat!”

Bangkai roket yang mereka tinggalkan beberapa kilometer sebelumnya kini berada di belakang mereka. Seolah mereka tak pernah pergi.

“Mungkinkah?” tanya Koveer.

“Roket itu berguling sampai sini. Tepat searah dengan kita di permukaan luas ini?”

“Diamlah, Abatul.”

Sang Kapten melirik ke arah prajurit-astronot kepercayaannya. “Catat di bukumu,” katanya. “Tandai sebagai kontraksi pertama.”

Mereka mulai berjalan lagi, menjauh dari bangkai roket.

“Kontraksi?” tanya Abatul seraya mengejar ketinggalannya dengan berjalan di samping Sang Kapten. “Apa maksudnya?”

“Planet ini sedang mengalami proses penyusutan,” kata Sang Kapten. “Biasanya, setiap seratus kontraksi, radius planet bisa berkurang sampai dua ribu kilometer.”

“Hubungannya dengan kita?”

Yureko menepuk kepala Abatul. “Sudah kubilang, diam saja!”

“Aku penasaran!”

“Gara-gara kau kita ada di sini!”

“Bukan salahku!”

“Kalian berdua diam!” bentak Koveer. “Atau kutembak di tempat.”

Abatul mendorong pundak Yureko sambil bersungut.

Koveer menepuk kepala Yureko, “Kau juga. Cari gara-gara terus!”

Maka selama perjalanan selanjutnya, jarak yang terbentang antara keempat prajurit-astronot tersebut semakin lebar. Abatul memimpin di depan, diikuti oleh Koveer, diikuti oleh Sang Kapten—yang diikuti oleh Yureko. Selain kawah-kawah yang semakin banyak mereka temukan tertanam di bawah tumpukkan abu, mereka juga menemukan susunan bebatuan granit yang menjulang ke langit dalam bentuk tak beraturan. Melebar, memanjang, menggapai angkasa. Permukaan planet pun cenderung semakin curam. Keempat awak kapal itu berjalan lama sekali, berhari-hari, ditemani sinar matahari. Bila mengantuk, mereka tidur di atas timbunan abu, berbaring dalam posisi menghadap langit, kaki yang satu menopang kepala yang lain (karena abu itu cukup panas dipanggang sinar matahari) dan begitu seterusnya, membentuk segi empat. Setiap dua orang tidur, dua lainnya berjaga. Namun lelah itu tak kunjung sirna.

Suatu saat, Sang Kapten dan Koveer bertugas jaga sementara Yureko dan Abatul terlelap. Sambil menguap berkali-kali, Koveer merogoh ke dalam tas ransel yang dibiarkan tergeletak di sampingnya, di atas undakkan abu.

“Makan, Kapten?”

Sang Kapten menatap langit di atasnya.

“Sepertinya aku tambah keriput,” ujar Sang Kapten.

“Mungkin karena udara kering.”

“Atau waktu yang bergerak kelewat cepat di sini.”

“Seandainya matahari lekas terbenam.”

“Kita harus menunggu seratus hari lebih untuk itu.”

“Sudah berapa lama kira-kira kita terdampar di sini, Kapten?”

“Entahlah. Jamku tak berfungsi.”

Koveer merogoh lagi ke dalam tas ranselnya yang dilapisi bahan alumunium.

“Bekalmu masih ada?”

“Tinggal dua kaleng ikan tuna dan ayam rica,” jawab Koveer. “Mau?”

“Tidak,” kata Sang Kapten. “Aku juga masih ada.”

Menggunakan jari, Koveer mencungkil isi kaleng dan memasukkannya ke dalam mulut dengan lahap—masih dalam posisi berbaring. Sang Kapten mengangkat kepalanya sebentar untuk melihat ke arah Koveer yang tengah susah payah menyuap makanan ke mulut tanpa tercecer ke bawah.

“Sebelum berangkat, aku sempat berjumpa dengan seorang Letnan dari Divisi Galaksi Biru,” ujar Sang Kapten.

Mulut Koveer penuh makanan. “Lalu?”

“Dia baru saja kembali dari Venus.”

Koveer berhenti menyuap isi kaleng ke dalam mulutnya. “Venus?”

“Dia kembali seorang diri,” kata Sang Kapten. “Semua awak kapalnya mati.”

Koveer menatap tangannya yang kotor. “Sebabnya?”

“Dua awak kapal meninggal begitu roketnya jatuh terdampar. Sisanya ada yang tersambar petir. Ada yang dibunuh oleh sesama awak kapal karena mendadak mengalami katatonia. Dan ada yang bunuh diri.”

Koveer tiba-tiba hilang selera makan. Ia menutup kaleng di tangan, membungkusnya dengan kertas alumunium dan menyimpannya kembali ke dalam tas ransel. “Dia sempat cerita soal Venus?”

“Katanya di tempat itu hujan tak pernah sedetik pun berhenti mengguyur. Pagi, siang, sore, malam. Hujan lebat tak ada akhir. Mereka bahkan tak bisa tidur. Air di mana-mana.”

Koveer membuka sebuah termos berwarna metalik dan dengan kepala sedikit ditegakkan menenggak isi termos. Setelah itu, ia menyeka bibir dengan punggung tangan. Belepotan. “Aku rela mengorbankan apa saja untuk melihat hujan sekarang,” katanya.

“Aku juga,” sahut Sang Kapten. “Kurasa lebih baik terdampar di Venus daripada di neraka jahanam ini. Setidaknya, di sana masih ada harapan.”

“Banyak yang bilang harapan bisa membunuh,” kata Koveer. “Tapi alternatifnya sama saja.”

Sang Kapten mengangguk. Kemudian ia memikirkan istrinya, nun jauh di sana, jutaan kilometer darinya—dan waktu yang telah mereka jalankan bersama. Tanpa sadar, ia menangis. Namun tangis itu hanya berupa perasaan saja. Wajahnya berkontraksi dengan mulut melebar dan mata menyipit dan hidung membesar—persis seperti orang menangis. Tapi tak ada airmata yang keluar. Tubuhnya tidak punya cukup kandungan air untuk itu.

“Kapten,” panggil Koveer.

“Hmm.”

“Menurutmu kita bisa selamat dari sini?”

Sang Kapten tidak langsung menjawab, membiarkan jeda itu tumbuh sesaat.

“Entahlah,” jawabnya kemudian.

“Aku belum siap mati,” kata Koveer.

“Berapa usiamu, Koveer?”

“Dua puluh tiga.”

“Punya pacar?”

“Belum, Kapten.”

“Apa saja yang kau lakukan selama ini?”

“Belajar untuk jadi prajurit-astronot.”

“Lihat hasil pelajaranmu sekarang,” kata Sang Kapten.

Koveer merasakan mulutnya kering. “Oh, sial.”

“Kenapa?” tanya Sang Kapten.

“Aku harus buang air kecil.”

Pemuda itu mengangkat kepalanya dari ujung kaki Sang Kapten dan bangkit berdiri. Angin panas berembus lagi, mengantar udara padat yang terasa membakar. Untungnya, angin itu tidak bisa menyentuh tanah. Mengapung bebas di atas kepala Sang Kapten dan kedua awak lain yang tengah lelap. Tidak begitu halnya bagi Koveer yang berdiri agak jauh dari posisi mereka dengan risleting celana terbuka. Wajahnya menghangat diterpa angin panas. Tak ada cairan yang keluar. Semua itu hanya firasat kosong. Ia buru-buru angkat celana, kembali ke posisi semula. Sang Kapten menarik napas panjang, berusaha agar tetap terjaga.

--------

Perjalanan yang mereka tempuh sungguh melelahkan, persediaan air pun kian menipis. Bahkan sekarang tubuh mereka sudah berhenti berkeringat, meski panas matahari terus menyengat. Dan tenggorokan mereka selalu tercekat. Sang Kapten berusaha menelan ludahnya sendiri untuk menanggulangi rasa haus; namun itu mustahil. Mulutnya kering.

“Aku tidak tahan lagi,” gerutu Yureko suatu hari. Kulitnya legam terpanggang sinar matahari. Wajahnya gelap berbalut abu. Bibirnya pucat, pecah-pecah. “Aku akan minum air seniku sendiri kalau itu memungkinkan. Tapi aku tidak bisa buang air kecil!”

Abatul menunjukkan ekspresi orang yang sedang menangis, namun tentunya tak ada airmata yang keluar. “Aku juga tak tahan lagi,” rengeknya. “Mimpiku aneh-aneh. Semalam aku melihat hantu gendut duduk di atas singgasana mewah terbuat dari manisan buah! Aku sudah mau gila!”

Sang Kapten dan Koveer saling bertukar tatapan. Lantas Yureko bangkit berdiri. Matanya cekung dengan bola mata yang seolah hendak mencuat keluar dari kepala.

“Kapten,” ujarnya tegas. “Aku minta ijin kembali ke Bumi.”

“Jangan macam-macam, Yureko,” kata Sang Kapten. “Kau mau ke Bumi naik apa?”

Yureko menunjuk ke arah Bumi yang berpendar cerah di kejauhan. “Aku bisa terbang ke sana,” ujarnya yakin. “Seperti Superman.”

Abatul mendongak, menatap ke arah Yureko dengan mulut menganga.

“Yureko, jangan gila,” kata Sang Kapten.

“Tidak,” sahut Yureko. “Aku punya kekuatan khusus yang tidak diketahui siapa-siapa.” Ia menarik napas panjang, kemudian menurunkan nada bicaranya dengan dramatis. “Aku bisa terbang.”

Abatul bertepuk tangan. “Wah, wah, wah!”

“Hentikan!” sergah Koveer. “Apa yang kau tepuki?”

Abatul menunjuk ke arah Yureko. “Dia Superman.”

Sang Kapten bangkit berdiri. “Yureko,” katanya. “Tenanglah dulu. Kita hadapi ini bersama.”

Sayang, sudah terlambat. Halusinasi itu, dipicu oleh dehidrasi, telah mencengkeram erat realita yang dihadapi Yureko; dan membuatnya kelewat yakin bahwa ia bisa terbang ke Bumi layaknya seorang superhero. Langit pekat di atas mereka menghadirkan biasan cahaya penuh warna; mengundang imajinasi dan membuat lupa mana yang nyata dan mana yang tidak. Bintang dan komet bersinar. Yureko tak buang waktu. Ia berlari dan melompat sekuat  tenaga melintasi gurun abu yang semakin panas. Kemudian, tepat di mana abu bertemu gugusan bintang—prajurit-astronot itu hilang entah kemana. Blip. Abatul menyaksikan semua itu bagai seorang anak kecil yang baru saja melihat aksi pahlawan favoritnya. Ia tertawa, berguling-guling sampai nafasnya sesak. Lalu ia melambai tinggi ke langit pekat, “Dah, Yureko! Sampai jumpa! Sampai jumpa!”

Kini mereka tinggal bertiga.

Hari-hari yang mereka lalui tanpa kehadiran Yureko tak semuanya mulus. Petaka demi petaka kian rajin menghampiri mereka. Gempa, hujan meteor, badai abu dan angin panas terus menempa keseharian ketiga prajurit-astronot tersebut. Dan Planet Merkurius pun menciut di hadapan mereka. Sejauh apapun mereka berjalan, roket yang mereka abaikan terus menghantui tidak jauh di belakang. Nampaknya, mereka berjalan di tempat dan berputar di lokasi yang sama.

Akhirnya, mereka menyerah. Mereka kembali ke lokasi awal, memanjat dinding roket dan merangkak ke dalam. Mereka duduk berdesakkan menghadap ke arah panel mesin yang sudah lama mati, tak lagi berfungsi. Udara di dalam roket terasa membakar. Pintu dibiarkan terbuka.

“Aku haus sekali,” kata Abatul dengan suara lemah. “Aku mau minum.”

Sang Kapten tidak merespon. Semua bekal air mereka sudah habis tak bersisa. Dalam waktu dekat, organ-organ tubuh mereka akan berhenti bekerja dan mereka akan meninggal dalam tidur. Tak lama lagi.

“Kapten,” panggil Koveer.

“Hmm.”

“Punya cerita?”

“Cerita apa?”

“Apa saja.”

Sang Kapten berpikir keras. Semampunya mengingat koleksi cerita yang merupakan perpaduan pengalaman teman-teman sejawatnya tentang planet dan sistem tata surya dan bintang dan komet dan cahaya polaris. Lantas dia teringat. Lalu dengan suara lirih—

“Hujan itu terus mengguyur,” Sang Kapten memulai ceritanya. “Hujan itu deras dan tanpa akhir, mengantarkan kabut dan embun…”

Jumat, 30 September 2016

Zadig

sumber

Awalnya tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas resensi buku. Kemudian daripada mengendap di laptop, aku posting di blog ini, dan untuk memenuhi kewajiban sebagai blogger, yaitu memposting sebuah tulisan. Hati-hati ada spoiler.
 
Zadig adalah buku karya Voltaire. Pertama kali diterbitkan di Prancis pada tahun 1747, kemudian diterjemahkan oleh Penerbit OAK pada bulan Oktober tahun 2015, diterjemahkan oleh Widya Mahardika Putra. Novel Zadig memiliki tebal 130 halaman.
 
Bergaya ala kisah 1001 malam, novel ini menghadirkan manusia bijak bernama Zadig, yang muda, kaya, dan hanya mencita-citakan kebahagiaan. Namun, nasib mengombang-ngambingkannya: calon istrinya direbut orang, wanita yang akhirnya dinikahinya ternyata kurang sempurna akhlaknya, dan ia menerima berbagai macam tuduhan. Meski begitu, berkat kebaikan hati dan kecerdasannya, Zadi kemudian dekat dengan Raja dan ratu Babilonia─paling tidak, sampai Zadig jatuh cinta pada Sang Ratu. Karena cintanya, Zadig terpaksa harus melarikan diri dari Babilonia. Dalam petualangannya ke berbagai negara, kesialan demi kesialan senantiasa menghampiri Zadig.

Di novel ini, Zadig adalah orang yang cerdas, memahami isi kitab Zarathustra, mempelajari filsafat, belajar tentang nilai-nilai kehidupan, dan orang yang bijak. Namun hal-hal yang dimiliki Zadig tidak membuat ia hidup bahagia. Malah hal-hal baik yang ia miliki terkadang malah membawa sial untuknya.

Kesialan pertama adalah ketika istri Zadig akan diculik, walaupun berhasil menyelamatkan istrinya, ia mengalami luka di bagian mata. Kemudian istrinya meninggalkannya, karena istrinya tidak mau mempunyai pasangan yang memiliki mata satu. Akan tetapi luka Zadig sembuh, akhirnya dia mencari istri yang berasal dari kalangan warga biasa, karena menurutnya gadis bangsawan adalah gadis yang kejam (istri Zadig sebelumnya adalah gadis bangsawan).

Zadig yang menginginkan kehidupan yang bahagia, dengan kecerdasan dan kebijakan yang ia miliki, terus mengalami kesialan demi kesialan. Ditangkap oleh pengawal kerajaan karena dituduh mencuri hewan peliharaan kerajaan, dihukum karena dituduh membuat syair yang menjelek-jelekkan Raja, diburu oleh pengawal kerajaan dan akan dibunuh karena mencintai Sang Ratu, dan kesialan-kesialan lainnya.

Namun terkadang kebijakan dan kecerdasan Zadig menyelamatkan ia dari kesialannya. Karena kebijakan dan kecerdasannya, ia dijadikan perdana mentri kerajaan. Kebijakan dan kecerdasannya pun sering menyelamatkan ia dari hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Bahkan Zadig dipercaya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sudah beratus-ratus tahun belum ada penyelesaiannya. Karena kebijakannya pun, Zadig dipercaya untuk menyelesaikan perdebatan antar kelompok yang memiliki kepercayaan yang berbeda.

Menurut saya novel Zadig adalah novel sederhana yang memiliki makna yang dalam. Di dalamnya terdapat hal-hal yang membahas tentang isu-isu ketuhanan, moralitas, dan terdapat juga nilai-nilai kehidupan. Dengan penuturan yang sederhana dan mudah dipahami, kita bisa dengan mudah menemukan pesan-pesan yang ada di novel ini.

Melalui dongeng yang sederhana, Voltaire juga ingin menyentil soal toleransi. Voltaire sendiri salah satu filsuf yang menggembor-gemborkan masalah toleransi, bisa dilihat dari karyanya, seperti esainya yang berjudul Risalah Toleransi, atau kumpulan-kumpulan esai yang lainnya, banyak membahas soal toleransi. Serta beberapa novelnya yang di dalamnya diselipkan isu-isu toleransi.

Selain kesederhanaan penceritaan dan pesan-pesan yang mendalam pada novel Zadig, kelebihan lainnya pada novel ini adalah pada penerjemahannya dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Penerjemah mampu menerjemahkan dengan sangat apik, sehingga enak dibaca dan maknanya mudah ditangkap.

Menurut saya kekurangan dari novel ini adalah, ada salah satu bab yang menurut saya konsep ceritanya sama dengan cerita Nabi Khidir yang pernah saya baca, hanya saja dalam salah satu bab tersebut nama tokoh dan latarnya berbeda. Sehingga saya menganggap bahwa ide Voltaire ini tidak asli, atau biasa kita sebut dengan plagiarisme. Namun sepertinya isu plagiarisme pada zaman Voltaire menulis buku ini belum segempar sekarang, sehingga hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan, atau karena alasan lainnya, saya tidak tahu.

Sabtu, 10 September 2016

Jumat, 26 Agustus 2016

Barisan yang Tersakiti Mantan

Ayo Ngobrol Sini


Yang Pernah Ditulis